Di sebuah desa yang cukup jauh dari daerah perkotaan, terdapat sebuah
keluarga yang bahagia. Meskipun mereka hidup sederhana, namun mereka tidak
pernah kekurangan apapun. Keluarga tersebut terdiri dari 2 orang anak laki-laki;
yang berumur 14 tahun dan 12 tahun; dan pasangan suami-istri yang saling
mencintai.
Pada suatu sore, salah seorang anak laki-laki dari keluarga tersebut sedang
bermain sepak bola bersama dengan teman-temannya di sebuah lapangan luas yang
dikelilingi oleh rerumputan ilalang.
“Edo, hoi Edo!”
Anak laki-laki tersebut menoleh kearah asal teriakan yang begitu kencang
dari arah pinggir lapangan. Bola yang tadinya sedang berada di kakinya berhasil
direbut oleh temannya yang kemudian diiringi oleh suara tertawa senang. Ia
bergumam kesal sambil menghampiri saudara laki-lakinya yang memanggilnya.
“Ada apa, kak?” tanya . “Ibu memanggil, sudah waktunya makan. Ayo pulang.”
Kakaknya meraih tangannya dan mengajaknya pulang, namun ia menarik tangannya
dengan cepat. “Sebentar lagi ya, kak. Aku masih mau bermain sekali lagi.”
Berlari ke arah lapangan untuk melanjutkan permainannya kembali dan
meninggalkan kakaknya yang menghela nafasnya panjang ketika melihat adiknya
pergi.
“Pulanglah sebelum malam!” teriak kakaknya sebelum ia berjalan pergi
meninggalkan lapangan yang ramai itu.
~
Eko, kakak dari Edo, berlari menuju sebuah warung yang tidak jauh dari
lapangan dan membeli beberapa titipan ibunya. Ia mencari kertas yang ditulis
sang ibu disaku celananya dengan terburu-buru. Setelah menemukan kertas
tersebut disaku baju berkerahnya yang berwarna biru itu, ia menyebutkan apa
yang ia akan beli kepada pemilik warung tersebut. Mungkin apabila pemilik
warung itu bisa membaca, ia sudah memberikan kertas itu kepada pemilik warung
tersebut dan ia hanya tinggal menunggu pemilik warung tersebut mencari
barang-barang sesuai yang tertulis disana.
Pemilik warung yang adalah seorang ibu-ibu sibuk mondar-mandir mengumpulkan
barang yang akan dibeli oleh . Ia sibuk merapikan belanjaan milik Eko yaitu gula
1kg, telur 1 kg, tepung terigu 1 kg,
minyak 2 liter, sabun mandi 2 buah, dan 1 HIT obat nyamuk. Mata Eko yang
memperhatikan ibu itu bolak-balik hanya membuat Eko terdiam.
~
Eko membawa 2 kantong belanjaan besar titipan sang ibu sendirian. Kedua
tangannya masing-masing memegang 1 kantong besar. Ia berjalan perlahan-lahan
karena keberatan membawa kantong-kantong tersebut.
“Kakak! Kakak!” teriak Edo dari kejauhan sambil berlari menghampiri Eko dan
kemudian berjalan di samping Eko. “Sini kak, aku bantu.” Edo mengambil kantong
yang berada di tangan kiri Eko dan memegang itu dengan kedua tangannya.
“Makasih ya,” ucap Eko sambil tersenyum sedikit kearah Edo. Dan mereka pun
bersama-sama berjalan pulang ke rumah.
~
Waktu menunjukkan
pukul 19.00 WIB pada jam di rumah Eko dan Edo ketika mereka sampai di rumah.
Mereka menaruh kantong belanjaan di atas meja pada ruang tamu dan duduk di sofa
sambil mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal. Eko melihat telapak
tangannya yang banyak terdapat garis-garis merah karena membawa barang terlalu
berat. Sementara Edo hanya memandangi langit-langit ruangan dengan tatapan
kosong.
“Terima kasih ya,
Eko, Edo. Kalian memang anak-anak ibu yang kuat.” Sang ibu menghampiri mereka
sambil membawa sebuah nampan yang membawa 2 buah gelas air putih dan sebuah
teko plastik yang berisi air putih. Tanpa berbicara lagi, kedua anak itu
langsung mengambil gelas yang dibawa sang ibu dan meminum isinya dengan cepat.
Mereka pun menghela nafasnya bersamaan dan kemudian menatap satu sama lain
karena heran mereka melakukan hal secara bersamaan. Ibu hanya bisa tertawa
melihat kelakuan mereka dan kemudian membawa kantong belanjaan tersebut ke
dapur satu persatu.
Setelah mereka
meminum gelas ketiga mereka, mereka menyusul ibu yang sudah memindahkan kedua
kantong belanjaan dan sedang merapikan barang-barang tersebut. “Ibu, mengapa
kau tidak terlihat capek membawa benda berat? Kami saja sudah kelelahan.” Tanya
Edo dari balik pintu masuk menuju dapur, ibu menoleh kearah Edo dan tersenyum
kecil. “Ibu sudah biasa, nak. Jadi ibu tidak merasa lelah.” Jawab ibu sambil
merapikan plastik dengan melipatnya menjadi kecil dan memasukkannya kedalam
laci.
~
Edo dan Eko
berlalu dari dapur menuju pekarangan rumah mereka. Disanalah sang ayah sedang
sibuk mengelap motornya sambil bersiul. “Ayah!” panggil mereka secara bersamaan
dan membuat sang ayah merasa terkejut dan langsung menoleh dengan mereka. “Ada
apa?” tanya sang ayah. “Ayah,mengapa ibu begitu kuat? Ia membawa 2 kantong
plastik berisi belanjaan yang berat sendirian. Sementara kami saja harus
membawanya berdua.” Tanya Edo dan ditambahkan dengan anggukan dari Eko.
“Ibu sudah biasa
membawa barang berat. Terkadang kalau ayah tak bisa mengantarkan ia ke pasar
dan kembali ke rumah, Ia berjalan kaki hingga ke pasar dan pulang dengan tangan
penuh di kedua tangannya.” Jawab sang ayah sambil mengangkat kedua tangannya
yang seolah-olah sedang mengangkat plastik dikedua tangannya.
“Kira-kira berapa
lama ibu berjalan dari pasar ke rumah?” tanya Edo yang penasaran sambil seolah
terlihat berpikir. “1 jam?” “Hanya 15 menit kok.” Jawab ibu dari arah pintu
sambil membawa segelas kopi untuk ayah. “Benarkah? Bukankah itu berat bu?”
Tanya Eko. “Kenapa tidak meminta tolong aku dan Edo saja?” “Aku tidak mau lagi.
Kau saja sendiri.” Sambar Edo dan membuat Eko jengkel dengan adiknya itu. “Dasar
kau ini. Bukannya bantu ibu,” ujar Eko kesal mendengar pendapat adiknya.
“Sudahlah, tak apa. Kalian belajar saja yang rajin biar nanti bisa membantu ibu
di masa depan,” ucap sang ibu sambil tersenyum.
Setelah hampir 1
jam bercakap-cakap bersama, sang ibu tiba-tiba saja berlalu pergi masuk kedalam
rumah. “Ibu mau ke mana?” tanya Edo sambil melihat berlalunya ibu. “Ibu mau
mengusir nyamuk dulu pakai HIT obat nyamuk di dalam kamar-kamar. Biar nanti
kalau kita tidur, tidak ada nyamuk yang menggigit kita,” jawab ayah sambil
meminum kopinya yang masih tersisa. Kedua anaknya hanya mengangguk seolah
mengerti.
~
“Anak-anak,
jangan masuk ke kamar dulu ya! Nanti kalau sudah 1 jam baru boleh masuk,”
teriak sang ibu setelah keluar dari kamar anaknya. “Baik bu,” jawab mereka yang
kini sedang menonton televisi. Sang ayah datang ke ruang televisi dan menyolok
obat nyamuk listrik di dekat televisi karena terdapat colokan panjang disana.
Ibu sedang
memotong beberapa bahan masakan untuk dimasak besok pagi sementara ayah sedang
merapikan sesuatu di ruang makan. Tiba-tiba Edo menguap dan mengucek matanya
dengan tangan kanannya. Eko menoleh dan meraih remot televisi dan mematikannya
dengan segera. “Ayo tidur, Edo.”
Eko beranjak dari
tempat duduknya dan menuju kamar mereka berdua, Edo mengikuti dari belakang
dengan mata sayupnya. “Tunggu aku kak.”
Setelah berada di
atas ranjang mereka masing-masing, ibu masuk dan duduk di pinggir ranjang Edo. “Nyamuknya
sudah tidak ada, kalian tidur lah dengan nyenyak,” ucap sang ibu sambil
menyelimuti Edo, lalu berpindah menyelimuti Eko kemudian.
“Terima kasih,
bu. Selamat Malam.”

No comments:
Post a Comment