Sunday, 24 April 2016

Selamat Malam, Ibu



Di sebuah desa yang cukup jauh dari daerah perkotaan, terdapat sebuah keluarga yang bahagia. Meskipun mereka hidup sederhana, namun mereka tidak pernah kekurangan apapun. Keluarga tersebut terdiri dari 2 orang anak laki-laki; yang berumur 14 tahun dan 12 tahun; dan pasangan suami-istri yang saling mencintai.

Pada suatu sore, salah seorang anak laki-laki dari keluarga tersebut sedang bermain sepak bola bersama dengan teman-temannya di sebuah lapangan luas yang dikelilingi oleh rerumputan ilalang.

Edo, hoi Edo!

Anak laki-laki tersebut menoleh kearah asal teriakan yang begitu kencang dari arah pinggir lapangan. Bola yang tadinya sedang berada di kakinya berhasil direbut oleh temannya yang kemudian diiringi oleh suara tertawa senang. Ia bergumam kesal sambil menghampiri saudara laki-lakinya yang memanggilnya.

“Ada apa, kak?” tanya . “Ibu memanggil, sudah waktunya makan. Ayo pulang.” Kakaknya meraih tangannya dan mengajaknya pulang, namun ia menarik tangannya dengan cepat. “Sebentar lagi ya, kak. Aku masih mau bermain sekali lagi.” Berlari ke arah lapangan untuk melanjutkan permainannya kembali dan meninggalkan kakaknya yang menghela nafasnya panjang ketika melihat adiknya pergi.

“Pulanglah sebelum malam!” teriak kakaknya sebelum ia berjalan pergi meninggalkan lapangan yang ramai itu.

~

Eko, kakak dari Edo, berlari menuju sebuah warung yang tidak jauh dari lapangan dan membeli beberapa titipan ibunya. Ia mencari kertas yang ditulis sang ibu disaku celananya dengan terburu-buru. Setelah menemukan kertas tersebut disaku baju berkerahnya yang berwarna biru itu, ia menyebutkan apa yang ia akan beli kepada pemilik warung tersebut. Mungkin apabila pemilik warung itu bisa membaca, ia sudah memberikan kertas itu kepada pemilik warung tersebut dan ia hanya tinggal menunggu pemilik warung tersebut mencari barang-barang sesuai yang tertulis disana.

Pemilik warung yang adalah seorang ibu-ibu sibuk mondar-mandir mengumpulkan barang yang akan dibeli oleh . Ia sibuk merapikan belanjaan milik Eko yaitu gula 1kg, telur 1 kg, tepung terigu 1  kg, minyak 2 liter, sabun mandi 2 buah, dan 1 HIT obat nyamuk. Mata Eko yang memperhatikan ibu itu bolak-balik hanya membuat Eko terdiam.

~

Eko membawa 2 kantong belanjaan besar titipan sang ibu sendirian. Kedua tangannya masing-masing memegang 1 kantong besar. Ia berjalan perlahan-lahan karena keberatan membawa kantong-kantong tersebut.

“Kakak! Kakak!” teriak Edo dari kejauhan sambil berlari menghampiri Eko dan kemudian berjalan di samping Eko. “Sini kak, aku bantu.” Edo mengambil kantong yang berada di tangan kiri Eko dan memegang itu dengan kedua tangannya. “Makasih ya,” ucap Eko sambil tersenyum sedikit kearah Edo. Dan mereka pun bersama-sama berjalan pulang ke rumah.

~

Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB pada jam di rumah Eko dan Edo ketika mereka sampai di rumah. Mereka menaruh kantong belanjaan di atas meja pada ruang tamu dan duduk di sofa sambil mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal. Eko melihat telapak tangannya yang banyak terdapat garis-garis merah karena membawa barang terlalu berat. Sementara Edo hanya memandangi langit-langit ruangan dengan tatapan kosong.

“Terima kasih ya, Eko, Edo. Kalian memang anak-anak ibu yang kuat.” Sang ibu menghampiri mereka sambil membawa sebuah nampan yang membawa 2 buah gelas air putih dan sebuah teko plastik yang berisi air putih. Tanpa berbicara lagi, kedua anak itu langsung mengambil gelas yang dibawa sang ibu dan meminum isinya dengan cepat. Mereka pun menghela nafasnya bersamaan dan kemudian menatap satu sama lain karena heran mereka melakukan hal secara bersamaan. Ibu hanya bisa tertawa melihat kelakuan mereka dan kemudian membawa kantong belanjaan tersebut ke dapur satu persatu.

Setelah mereka meminum gelas ketiga mereka, mereka menyusul ibu yang sudah memindahkan kedua kantong belanjaan dan sedang merapikan barang-barang tersebut. “Ibu, mengapa kau tidak terlihat capek membawa benda berat? Kami saja sudah kelelahan.” Tanya Edo dari balik pintu masuk menuju dapur, ibu menoleh kearah Edo dan tersenyum kecil. “Ibu sudah biasa, nak. Jadi ibu tidak merasa lelah.” Jawab ibu sambil merapikan plastik dengan melipatnya menjadi kecil dan memasukkannya kedalam laci.

~

Edo dan Eko berlalu dari dapur menuju pekarangan rumah mereka. Disanalah sang ayah sedang sibuk mengelap motornya sambil bersiul. “Ayah!” panggil mereka secara bersamaan dan membuat sang ayah merasa terkejut dan langsung menoleh dengan mereka. “Ada apa?” tanya sang ayah. “Ayah,mengapa ibu begitu kuat? Ia membawa 2 kantong plastik berisi belanjaan yang berat sendirian. Sementara kami saja harus membawanya berdua.” Tanya Edo dan ditambahkan dengan anggukan dari Eko.

“Ibu sudah biasa membawa barang berat. Terkadang kalau ayah tak bisa mengantarkan ia ke pasar dan kembali ke rumah, Ia berjalan kaki hingga ke pasar dan pulang dengan tangan penuh di kedua tangannya.” Jawab sang ayah sambil mengangkat kedua tangannya yang seolah-olah sedang mengangkat plastik dikedua tangannya.

“Kira-kira berapa lama ibu berjalan dari pasar ke rumah?” tanya Edo yang penasaran sambil seolah terlihat berpikir. “1 jam?” “Hanya 15 menit kok.” Jawab ibu dari arah pintu sambil membawa segelas kopi untuk ayah. “Benarkah? Bukankah itu berat bu?” Tanya Eko. “Kenapa tidak meminta tolong aku dan Edo saja?” “Aku tidak mau lagi. Kau saja sendiri.” Sambar Edo dan membuat Eko jengkel dengan adiknya itu. “Dasar kau ini. Bukannya bantu ibu,” ujar Eko kesal mendengar pendapat adiknya. “Sudahlah, tak apa. Kalian belajar saja yang rajin biar nanti bisa membantu ibu di masa depan,” ucap sang ibu sambil tersenyum.

Setelah hampir 1 jam bercakap-cakap bersama, sang ibu tiba-tiba saja berlalu pergi masuk kedalam rumah. “Ibu mau ke mana?” tanya Edo sambil melihat berlalunya ibu. “Ibu mau mengusir nyamuk dulu pakai HIT obat nyamuk di dalam kamar-kamar. Biar nanti kalau kita tidur, tidak ada nyamuk yang menggigit kita,” jawab ayah sambil meminum kopinya yang masih tersisa. Kedua anaknya hanya mengangguk seolah mengerti.

~

“Anak-anak, jangan masuk ke kamar dulu ya! Nanti kalau sudah 1 jam baru boleh masuk,” teriak sang ibu setelah keluar dari kamar anaknya. “Baik bu,” jawab mereka yang kini sedang menonton televisi. Sang ayah datang ke ruang televisi dan menyolok obat nyamuk listrik di dekat televisi karena terdapat colokan panjang disana.

Ibu sedang memotong beberapa bahan masakan untuk dimasak besok pagi sementara ayah sedang merapikan sesuatu di ruang makan. Tiba-tiba Edo menguap dan mengucek matanya dengan tangan kanannya. Eko menoleh dan meraih remot televisi dan mematikannya dengan segera. “Ayo tidur, Edo.”

Eko beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar mereka berdua, Edo mengikuti dari belakang dengan mata sayupnya. “Tunggu aku kak.”

Setelah berada di atas ranjang mereka masing-masing, ibu masuk dan duduk di pinggir ranjang Edo. “Nyamuknya sudah tidak ada, kalian tidur lah dengan nyenyak,” ucap sang ibu sambil menyelimuti Edo, lalu berpindah menyelimuti Eko kemudian.

“Terima kasih, bu. Selamat Malam.”



No comments:

Post a Comment