Jakarta, 30 Juli 2016
Pukul 10:11
Sudah 21 tahun aku hidup
didunia ini. Dunia yang penuh dengan hiruk pikuk kebingungan serta keunikannya.
Aku lahir pada 28 Juli 1995 di
sebuah kota yang merupakan ibukota dari sebuah negara kepulauan yang memiliki banyak
cerita membingungkan. Beberapa hari yang lalu adalah ulang tahunku, dan aku
berterima kasih kepada semua keluarga, sahabat serta teman-temanku dari seluruh
dunia yang telah memberiku ucapan selamat.
Perjalanan hidupku tidaklah
seperti anak jalanan namun cukup membuat luka dihati dan juga tidak seperti
para anak-anak kaya yang bebas mendapatkan apa saja yang diinginkan. Hidupku
penuh dengan kerahasiaan yang ku simpan dan rasakan sendiri.
Masa-masa TK pada sebuah
kompleks perumahan di Joglo adalah sebuah kenangan indah. Setiap membeli
makanan ringan akan mendapatkan hadiah untuk di koleksi, bermain dengan teman
sekelas dengan penuh imajinasi serta keasyikan lainnya, bermain dengan senangnya, berlarian di taman
bermain yang disediakan sekolah, dibelikan permainan yang dijual didekat
sekolah. Ya, memang masa-masa TK adalah
masa-masa yang indah, dimana seorang anak masih belum mengetahui banyak hal
yang dapat menghancurkan masa kecilnya.
Menjadi anak tunggal adalah
masa-masa yang begitu baik dan membahagiakan, karena pusat perhatian orang tua
akan tertuju hanya pada satu anak saja. Itulah yang kurasakan sebelum aku
memiliki seorang adik pada saat aku berusia 5 tahun.
Pada awalnya, aku sempat membencinya
karena ia mengambil alih apa yang telah aku miliki, pusat perhatian dan
lain-lain. Kesengajaan dan ketidak sengajaan sering ku lakukan kepadanya. Yang
malah membuat aku semakin merasakan aura negatif orang tua. Karena dia lah, aku
merasa bahwa akulah tersangka dari semua permasalahan yang ada. Semakin aku
beranjak dewasa, aku sadar, bahwa aku harus melindunginya serta menjaganya dari
banyak hal negatif yang menghantuinya. Dan aku pun merubah perilaku ku padanya.
Sekilas tentang hal lain.
Kembali pada berbagai persoalan yang menjadi rahasia ku selama ini.
Menginjak bangku SD, aku mulai
kehilangan teman-teman yang sering bermain dengan ku. Berbagai alasan menjadi
penyebab aku tidak bisa bermain lagi dengan mereka. Pada saat kelas 1 SD, aku
mengaku pernah menyukai seorang anak laki-laki kelas sebelah yang begitu
pintar. Kami sama-sama mendapat juara 1 meskipun kelas kami berbeda. Semua
berkat kerja keras ibuku yang membantuku belajar pada saat itu. Pada kelas 1 SD
pula, aku mulai menyukai seni; entah itu seni tari ataupun menggambar.
Ekstrakulikuler yang aku ikuti adalah menari namun hanya ada hingga kelas 2 SD
saja karena perubahan kurikulum pada sekolah. Pada saat kelas 2 SD pula, aku
harus kehilangan teman terbaikku karena masalahnya dengan nilai yang membuatnya
harus tinggal kelas. Semenjak ia tinggal kelas, ia mulai mendapat teman baru
yang lebih baik dan kami pun tidak pernah banyak bermain bersama lagi.
Setelah ditinggal oleh teman
baik ku sejak TK, aku mendapatkan seorang teman baik yang lain. Seorang yang
begitu pintar berbahasa inggris serta begitu berbeda. Kami selalu bersama-sama
pada saat istirahat dan juga selalu menjadi teman kelompok hingga kelas 3. Pada
saat kelas 4, ia pun terpilih untuk masuk kedalam kelas khusus yang
pelajarannya menggunakan bahasa inggris secara keseluruhan. Meskipun jadwal
kami berbeda, aku masih suka mengunjungi disela-sela pelajaran. Pada saat field trip, kami sering duduk bersama
dan aku sering menjaganya ketika ia mabok kendaraan. Aku membiarkannya tertidur
dipundakku ketika ia merasa mual serta menyiapkan kantong plastik apabila ia
ingin muntah. Kami sering membicarakan berbagai hal dan aku sering menceritakan
tentang anak laki-laki yang aku taksir, tanpa mengetahui kenyataan yang
sesungguhnya.
Pada saat kelas 5, 2 orang
teman sekelasku yang ternyata lebih dekat dengan teman baikku memberiku
sepotong surat dari dirinya. Dalam surat itu tertulis bahwa sebenarnya kami
menyukai orang yang sama, akan tetapi karena ia pindah sekolah yang katanya ke
New Zealand, ia merelakan anak itu kepada ku. 2 teman dekatnya mengecapku
sebagai orang jahat yang tidak mengerti dan mengenal sosok teman baik ku dengan
baik. Selama beberapa minggu berikutnya, aku dihantui rasa bersalah kepada
teman baikku tersebut. Akan tetapi aku tidak pernah bisa memberikan permintaan
maafku serta penyesalan terbesarku kepadanya.
Aku tidak terlalu dekat dengan
teman sekelasku sejak berada di kelas 5 SD. Aku mulai sering pergi sendiri ke
kantin dan mengerjakan pekerjaan rumah sendiri. Terlebih karena masalah rumah
yang mengharuskanku tidak boleh bermain setelah pulang sekolah dan harus segera
pulang. Aku mulai sering bermain dengan adik kelas ku dan juga dengan teman
lama yang sudah lama terlupakan. Bahkan karena beban fisik dan mental yang
kualami, aku sempat menangis pada saat pelajaran Character Building yang diajarkan oleh seorang guru perempuan
sambil mengatakan ‘aku tidak punya teman’.
Bukankah disekelilingmu banyak teman-temanmu?
Tidak. Ia tidak mengerti
apapun yang kurasakan. Meskipun kami sekelas, kami tidak terlalu dekat. Aku
tidak merasakan kedekatan diantara kami. Tapi mereka berusaha untuk membuatku
membaik dengan mengajak ku makan siang bersama dan mengerjakan pekerjaan rumah
bersama di sekolah secara perlahan. Bahkan 2 orang teman dekat dari teman baik ku
yang sebelumnya mengajarkan ku menggambar anime dan menggambarkanku sebuah
gambar anime yang hampir mirip denganku.
Menginjak kelas 6 SD,
kondisiku tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Aku tidak mengingat banyak pada
kelas 6 SD. Tapi aku mengingat beberapa teman-temanku yang telah berpisah
duluan sebelum lulus SD bersama. Ada yang pindah ke luar negeri maupun luar
jakarta, pindah menjadi home schooling,
ataupun pindah sekolah yang lain. Yang kuingat dari masa SD adalah guru-guru
yang begitu baik dan luar biasa yang mengajarkan banyak hal mengenai pelajaran
dan juga kehidupan sehari-hari.
SMP adalah masa-masa terburuk
yang pernah ku alami selama ku hidup. Pada awalnya, aku memiliki seorang
sahabat yang berasal dari India. Namun karena suatu perihal, ia pun menjauhiku.
Tidak hanya dia, hampir seluruh teman sekelasku memusuhiku dan mulai mengutukku
dengan kata-kata negatif. Aku sempat menceritakan masalah ini kepada orang tua
karena aku merasa semakin risih, namun ternyata itu bukan solusi yang tepat.
Aku menjadi kehilangan rasa persahabatan selama 3 tahun SMP. Tidak ada yang mau
sekelompok dengan ku kecuali dengan paksaan tugas. Bahkan orang tua menyulitkan
untuk melakukan kerja kelompok dan memberikan kebebasan. Aku terbebani, dan
karena hal itu berat ku perlahan meningkat drastis dan membuat ku terlihat
seperti ibu-ibu pada saat SMP.
Aku tidak bisa menyalahkan
siapapun meskipun aku ingin. Berbagai masalah rumah tangga membuat ku semakin
terbebani dan stress. Pada saat 1 SMP, aku sering menonton sebuah stasiun TV
yang menyajikan tontonan anak-anak yang berbauh anime. Dari sanalah aku mulai membuat dunia ku sendiri, dunia yang
hanya dapat dikendalikan oleh ku dan membuat ku tidak kesepian. Aku membuat
seseorang yang merupakan gambaran dari diriku, yang kuberi nama Nana. Ia
menggunakan dress putih, flat shoes putih,
dan rambut terurai. Sifatnya baik hati dan ramah terhadap siapa saja, selain
itu ia juga suka menolong dan melindungi banyak orang. Aku membuat dunia ku
sendiri, dengan berbagai teknologi canggih, membuat portal dimensi yang
menghubungkan antar dunia anime dan
membuat petualangan ku sendiri dalam alam imajinasi ku.
Aku sedikit terselamatkan pada
saat kelas SMP 2, ketika aku dekat dengan kakak kelas ku yang satu tingkat
diatas ataupun SMA serta adik kelas ku. Aku memiliki seorang sahabat baik yang
berada di bawah tingkat 1 tahun, julukannya donat karena ia berisi dan juga
lucu. Hobinya menyukai segala macam hal yang berbau Harry Potter. Selain itu,
ada beberapa senior hebat dan baik lainnya yang selalu mengobrol denganku
setiap istirahat. Aku pun mulai diajak untuk masuk ke dalam ekstrakulikuler
drama yang membuatku menyukai seni teater. Meskipun ada beberapa hal yang
membuat ku berselisih dengan orang tua, namun semua itu terlewati begitu saja.
Sekolahku adalah sekolah
kristen, yang pada setiap jumatnya ada sebuah kebaktian yang dimulai pada pagi
hari. Aku sangat suka duduk dibarisan depan pada saat kebaktian karena dapat
membuat ku lebih fokus, ada beberapa kali aku duduk dibelakang karena telat
dari kelas. Aku juga dekat dengan salah satu guru yang ku anggap sebagai kakak
sendiri, ia menjadi guru konseling di sekolah dan pada setiap jam istirahat aku
sering mengunjungi untuk mengobrol.
Masa-masa pada saat kelas SMP
3 adalah puncak dari masalah-masalah yang ada. Akan tetapi perlahan mulai
membaik karena berada ditahun terakhir, meskipun tidak terlalu banyak peningkatan
antara hubungan ku dengan yang lainnya. Aku pernah menantang seseorang yang
pernah aku sukai ketika SD untuk mencekik ku pada saat aku marah padanya karena
masalah pada praktek IPA dan ia benar-benar mencekik ku. Kalau saja tidak ada
yang melerai kami, mungkin saja aku tidak ada pada saat ini.
Perlahan aku mulai sering
diajak untuk main bersama dengan sesama teman perempuan dan mulai bisa kerja
kelompok tanpa beban. Meskipun aku merasa bersalah terhadap orang tua yang
telah mengantarku karena aku harus ribut dengannya karena ia terlalu
mempermasalahkan waktu. Hubunganku dengan teman-teman yang lain membaik bahkan
kami pun pergi menginap ke puncak bersama-sama. Pada saat acara itu, salah satu
temanku kerasukan setan dan terjadilah perang roh tepat didepan mataku. Pada
saat itu, tidak banyak orang yang berada pada kejadian yang terjadi pada malam
tersebut. Berbagai acara kebersamaan membuat semua membaik.
Saat orang tua ku memutuskan
untuk pindah ke Lampung, salah seorang temanku merasa sedih karena hampir semua
teman sekelas pindah. Meskipun ia berharap aku tidak pindah, namun aku tidak
bisa mewujudkan keinginannya.
Aku pindah ke Lampung pada
saat menginjak SMA, sementara adikku sekitar kelas 4 atau 5 SD. Aku masih ingat
bahwa aku salah menggunakan seragam karena aku tidak tahu seragam mana yang
harus aku gunakan, untung saja aku membawa 2 jenis seragam sehingga tidak
memperburuk hari pertama ku bersekolah di Lampung. Wali kelas ku adalah seorang
yang baik dan menurutku adalah seorang yang bebas dan dekat dengan
siswa-siswinya. Aku merasa beruntung memiliki wali kelas sepertinya karena ia
begitu baik dan pengertian, bahkan ia sempat mengajakku mengobrol pada saat aku
tidak begitu dekat dengan yang lainnya karena baru saja pindah.
Pada saat SMA, aku mendapat
berbagai masalah yang setidaknya tidak terlalu parah seperti masa SMP. Masalah
yang dihadapi selama SMA ada beberapa; seperti dicap tukang bohong dan
pura-pura polos, tanpa sengaja ngomongin teman tanpa di sadari, terlalu lebay,
dan beberapa hal lainnya yang tidak ku ketahui apa bila ada.
Masa SMA lebih mendekatkan ku
pada K-pop setelah mengetahui K-pop pada saat SMP dan jaman drama Boys before flower. Serta awal menjadi author serta cover dancer
serta beberapa hal lainnya yang tidak terpikirkan sebelumnya. Aku mulai sering
menonton KBS World yang ada di Indovision.
Pada SMA 2, aku menyukai Super
Junior terutama Ryeowook dan Sungmin. Hampir timeline facebook ku setiap hari
berisi informasi tentang mereka. Dan pada saat itu banyak informasi mengenai
akun facebook milik mereka kau mulai search
akun mereka dan add satu persatu.
Aku bertemu dengan banyak akun yang sebagian besar adalah roleplayer. Namun ada satu hal yang membuat ku tidak bisa melupakan
bagian ini.
Ada sebuah akun facebook yang
bernama Kim Ryeowook yang sering sekali posting
secara update dan realtime, sehingga aku menganggap bahwa ia adalah asli.
Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku selalu mengirimkannya pesan semangat
dan mengeceknya setelah pulang sekolah. Setelah beberapa bulan seperti itu,
mulai terjadilah percakapan diantara kami. Seperti apa yang ia lakukan disana,
saat-saat ketika ia baper, saat-saat sedih dan sebagai. Bagiku dia adalah sosok
teman yang selama ini ku butuhkan, karena ada banyak hal yang tentunya hanya
bisa disampaikan pada orang-orang tertentu bukan? Dan aku mempercayainya
sebagai akun asli.
Selain akun Kim Ryeowook itu,
aku juga dekat dengan sebuah akun Cho Kyuhyun. Kami juga suka mengobrol
sesekali meskipun tidak sesering Kim Ryeowook. Hingga suatu ketika ia mengajak
ku untuk relationship status di
facebook. Ia menembak ku via message dan
membuat ku menangis pada jam 3 pagi. Karena membuat aku bingung harus memilih
yang mana diantara mereka. Aku pun hanya memiliki relationship dengannya selama beberapa hari saja karena pada
akhirnya aku memilih akun Kim Ryeowook.
2 tahun berlalu dengan cepat,
dan hingga suatu saat aku menemukan fakta yang mengejutkan. Kalau sebenarnya
dia bukan Kim Ryeowook asli. Aku berhasil memancing dia untuk mengatakan hal
yang sebenarnya. Nama aslinya Xian Mi berasal dari China, ia memiliki kanker
hati stadium 3 serta memiliki kaki palsu dibagian kanan karena mengalami
kecelakaan mobil. Pada kecelakaan tersebut, ayah serta adiknya meninggal dunia.
Pada awalnya aku marah kepadanya karena telah berbohong, tapi karena memiliki
sebuah janji kepada diri sendiri untuk tidak meninggalkan orang yang sendirian
akhirnya aku masih mengobrol dengannya selama setahun berikutnya sebelum pada
akhirnya ia meninggal pada tahun 2014. Kepergian memberikan dampak besar
terhadapku. Karena aku tidak bisa sejujur itu kepada orang lain sebelumnya
terlebih lagi dengan beban yang aku miliki pada saat perkuliahan membuatku
stress mendadak.
Aku melewati masa SMA ku
seperti melewati masa penyembuhan dari luka lamaku. Ketika aku kembali ke
Jakarta untuk kuliah, aku bertekad bahwa aku akan berubah dari sebelumnya
menjadi seorang yang lebih baik lagi. Aku mengikuti 6 buah organisasi yang
terdiri dari 1 komunitas dan 5 UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Namun ketika
menjalankan semua organisasi tersebut, tidaklah semulus yang dibayangkan. Aku
sempat bertengkar dengan salah satu senior ku karena aku tidak bisa lanjut pada
salah satu UKM karena aku terlalu fokus pada 1 komunitas dan 3 UKM, sehingga aku harus melepaskan 2 UKM
setelah 1 tahun lamanya aku berkuliah.
Pada tahun pertama
perkuliahan, aku dekat dengan 2 orang laki-laki yang sering memakai jaket
abu-abu. Cara aku dengan mereka pun terbilang cukup unik. Laki-laki pertama
memiliki ciri kepala botak sehingga ia sering memakai topi serta sering merutuk
setiap harinya. Aku bahkan hafal setiap rutukannya pada pagi hari. Meskipun ia
seorang yang pintar dalam setiap mata kuliah, namun ia memiliki hubungan yang
buruk dengan keluarganya sendiri, terutama kepada ibunya. Apabila di telusuri
lebih lanjut, sebenarnya semua hanya kurang berkomunikasi. Karena teman ku itu
adalah seorang yang tertutup, merasa sang ibu terlalu cerewet dan menyebalkan
serta menyimpan rahasia terbesar bagi seorang laki-laki yang seharusnya tidak
diketahui oleh banyak orang. Tapi aku tidak sengaja mengetahuinya.
Karena dia sering membuat
masalah, ibunya jadi suka mengecek kontak hp miliknya. Sehingga tanpa disadari
ia memiliki nomor ku dan menghubungiku untuk menanyakan kabar anaknya itu.
Bahkan aku sempat takut bahwa sewaktu-waktu aku akan dijodohkan dengannya
dikarenakan dia tidak terlalu dekat dengan anak perempuan. Aku hanya sekelas
dengannya hingga semester 2 dan setelah itu aku tidak terlalu mengetahui
kabarnya. Namun ia menghubungiku pada saat ia akan mencoba mengambil student exchange ke Perancis untuk mencari
‘Pacar’ dan ‘Kebebasan’ meskipun pada kennyataannya sang ibu akan melarangnya.
Oleh karena itu ia mengurus dengan sembunyi-sembunyi dan dengan cara yang
terbilang licik menurutku.
Masalah yang paling terakhir
aku dapat darinya ketika sang ibu menghubungi ku karena ia tidak dapat
mengontak anaknya sendiri. Pada saat itu dia sudah pergi exchange ke Perancis. Sang ibu mendapatkan kontak facebook dari teman ku yang pernah pergi
exchange sebelumnya, namun bukan
Perancis. Hampir setiap hari, ibunya menghubungi ku dan mengatakan pesan yang
berisi ketakutan yang akan terjadi pada sang anak setelah ia mengetahui kondisi
anaknya yang sebenarnya. Ia terakhir kali mengatakan padaku bahwa ia akan
menyusul anaknya ke Perancis apabila ia tidak mau pulang. Dan sejak saat itu,
aku tidak pernah mengetahui kabar tentangnya lagi.
Laki-laki kedua bisa dibilang
misterius, pada awal bulan perkuliahan semester 1, ia sering mengikuti dari
belakang pada saat aku dan laki-laki pertama pulang atau pindah kelas. Karena
lama kelamaan aku merasa risih, akhirnnya aku mengajaknya bicara dan sampai
sekarang kami masih sering menghubungi satu sama lain melalui facebook. Laki-laki pertama sempat
berhipotesis bahwa dia suka padaku, namun aku hanya menanggapinya biasa. Aku
perempuan tomboy, dan aku bangga pada diriku.
Selama aku kuliah, aku merasa
sangat bersyukur karena aku dibantu oleh banyak orang di setiap semesternya.
Aku beruntung bahwa selain dapat lulus dari sebuah mata kuliah, aku juga dapat
berkembang dan belajar banyak dari mereka. Sebagian besar teman yang membantu
ku adalah anak-anak yang rajin dan pintar, untungnya mereka semua baik terhadap
perempuan dikarenakan perbandingan antara jumlah perempuan dan laki-laki di
jurusanku berbeda jauh.
Meskipun selama masa kuliah
aku banyak dibantu oleh teman-teman sekelas, namun aku juga memiliki masa-masa
kelam. Salah satunya adalah kejadian saat berada di laboratorium komputer
semester 1, aku tidak pernah bisa melupakan kejadian itu. Pada waktu itu sedang
masa ujian akhir, aku sudah belajar dengan sebaik mungkin bahkan mentor yang mengajari ku sudah
memberikan latihan layaknya asisten laboratorium dengan luar biasa. Namun aku
tiba-tiba saja nge-blank, dan aku
tidak bisa mengerjakan soal dengan baik. Alhasil, aku menangis setelah ujian
berakhir dan hendak meninggalkan ruangan. Dosen serta asistennya kaget dengan
situasi tersebut, bahkan kedua temanku juga kaget dan berusaha menenangkan ku
dengan mengatakan semua akan baik-baik saja.
Nilai bukanlah akhir dari semuanya kok.
Karena hal itu, aku tidak bisa
lolos ujian masuk menjadi asisten. Oh iya, aku sempat mendaftar untuk menjadi
seorang asisten laboratorium dengan teman-teman ku yang pintar-pinta. Alasan:
aku membutuhkan uangnya. Pada awalnya aku tidak tertarik untuk mendaftar, namun
dikarenakan berita PHK orang tua ku di luar kota pada saat hari Kathina membuat
ku mulai berpikir kritis sejak saat itu. Aku berusaha belajar keras, meskipun
aku sempat ingin pindah jurusan perkuliahan karena aku merasa tidak mampu untuk
meneruskan lebih lanjut.
Aku hanya bertahan selama 1
semester saja dalam tahap menjadi asisten yang terhitung hanya sampai tahap 1.
Aku tidak sampai core training dengan
yang lainnya, padahal waktu itu jumlah yang ada tidak lah sebanyak ketika awal
pendaftaran. Namun sebagai gantinya, aku mendapatkan activity point yang lumayan banyak dan akan berguna pada saat aku
akan lulus nanti. Meskipun aku tidak sampai training
core, namun aku cukup disibukkan dengan membantu teman ku yang bertopi. Ia
pintar, namun pemalas serta tidak dapat menjaga dirinya dengan baik, sehingga
ia hanya bisa bertahan selama 1 minggu di core
training.
Dapat ku katakan bahwa tidak
menjadi asisten laboratorium bukanlah hal buruk, karena aku dapat menjalani
aktivitas ku dengan jadwal di komunitas dan UKM yang aku ikuti. Aku paling
aktif pada sebuat komunitas sosial serta UKM kerohanian hingga sebelum aku
melaksanakan program internship selama
1 tahun.
Aku akan menceritakan
pengalaman ku selama berada di UKM kerohanian. Selama menjadi aktivis pada
tahun pertama, aku merasa bersemangat dan senang dikarenakan mendapatkan teman
yang baru dan banyak. Mereka semua begitu asyik dan seru untuk diajak mengobrol
serta main. Aku aktif dalam beberapa acara UKM sebagai panitia. Aku pernah
menjadi anggota dokumentasi, anggota dana, serta menjadi ketua bagian penerima
tamu. Dalam UKM kerohanian itu, aku dekat dengan 3 orang perempuan. Ada yang
berasal dari Lampung dan sisanya dari Jakarta. Hingga saat ini aku dekat dengan
yang berasal dari Lampung karena kami sering pergi ke vihara bersama. Karena
suatu masalah percintaan, kami berempat tidak bisa kumpul bersama lagi.
Meskipun kami berada pada UKM
yang sama, kami masuk ke dalam bidang yang berbeda-beda. Kami berada pada
bidang yang sama saat pertama kali masuk hingga kami menjadi pengurus pada
tahun berikutnya. Penyesalan terbesar ku adalah saat aku menangis pada saat
wawancara pengurus karena aku takut pada salah satu interviewer, selain itu aku juga lupa beberapa hal penting yang
merupakan filosofi dari UKM tersebut. Namun untung saja ketua bidang ku, begitu
baik sehingga ia mau kembali menerima ku.
Pada saat aku menjadi
pengurus, aku mencoba untuk tetap aktif di tahun terakhir aku bisa menjadi bagian
dari UKM sebelum aku menjalani program internship.
Aku hanya tergabung dalam acara ulang tahun UKM kerohanian sebagai divisi
desain dan dokumentasi selama menjadi pengurus. Meskipun hanya tergabung dalam
1 acara, namun acara itu adalah acara yang tidak terlupakan selama aku menjadi
bagian dari UKM kerohanian itu. Oh iya, aku pernah mencoba untuk menjadi ketua
event untuk acara ulang tahun UKM tersebut namun gagal. Di karenakan kurangnya
rasa percaya diri dan persiapan yang matang. Lawanku pada saat itu adalah
seorang yang sangat aktif dalam organisasi keagamaan dan vihara. Aku bahkan
tidak heran pada saat aku kalah. Meskipun begitu aku sempat dilanda panik dan
ketakutan setelah melakukan presentasi, namu wakil ketua pada saat itu
menghiburku dan mengajakku ngobrol agar dapat mengalihkan perhatian ku.
Ketika pembubaran periode
sebelum aku menjalani program internship,
aku merasa sedih dikarenakan aku tidak dapat menjalani hal-hal yang
menyenangkan lagi. Disaat yang bersamaan, aku juga merasa bersyukur dan
berterima kasih kepada Budha karena aku diberikan kesempatan untuk bertemu
dengan orang-orang baik serta melakukan aktivitas yang baik juga.
Selain aktif pada organisasi
kerohanian, aku juga aktif pada sebuah komunitas sosial. Aku memiliki banyak
kenangan manis dan juga pahit selama berada disana. Ceritaku pada saat berada
di komunitas mungkin akan sangat panjang daripada saat berada di organisasi
kerohanian.
Semua berawal pada saat masa
orientasi, orientasi di kampus ku berbeda dari kampus lain. Dikarenakan kami di
bina agar dapat mengetahui lingkungan kampus dengan baik, salah satunya adalah
mengetahui organisasi serta komunitas yang ada di kampus. Ada sebuah sesi pada
orientasi yang diberi nama ‘bunga rampai’. Pada sesi tersebut, semua organisasi
dan komunitas akan menampilkan daya tarik mereka agar kami dapat tertarik untuk
mendaftar. Diantara semuanya, yang paling heboh dan ramai setiap tahunnya
adalah organisasi penyiar radio dimana kau akan merasakan seperti sedang berada
di sebuah klub malam (kenyataannya aku sama sekali tidak tertarik dengan klub
malam).
Ketika sesi tersebut, aku
paling tertarik dengan komunitas sosial tersebut. Meskipun presentasi mereka
terlihat biasa, namun yang membuat ku tertarik adalah program sosial mereka.
Sudah sejak lama aku ingin bisa membantu sesama terutama bagi masyarakat dan
menurutku komunitas tersebut adalah sebuah wadah yang cocok dengan impianku
sebagai voluntir. Karena keinginan kuatku, aku mendaftar di komunitas itu
sendirian diantara teman-teman sekelas orientasi ku.
Pada suatu sore di hari selasa,
aku sedang mengecek instagram ketika
sebuah post dari teman ku
memperlihatkan foto gerombolan anak-anak yang berbaris hendak mengikuti program
bimbingan belajar. Aku langsung menghubungi teman ku itu dan meminta jadwal
mengajar. Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung datang ke tempat yang telah
di tentukan itu keeesokan harinya.
Pada saat hari pertama aku
mengajar, aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan
atau harus kemana aku pergi berikutnya. Aku bertanya pada salah seorang
voluntir laki-laki yang bertubuh tinggi namun kurus. Ia memberitahuku untuk
masuk kedalam kantor terlebih dahulu untuk absen. Aku menanyakan banyak
pertanyaan kepadanya mengenai mengajar anak-anak. Pada saat itu ada 2 orang
voluntir asing yang berasal dari Korea dan Jerman, aku ingat melakukan
kesalahan yang memalukan pada saat itu. Aku hampir saja tidak datang lagi
setelah kejadian itu, namun karena keinginanku untuk bertemu anak-anak cukup
kuat, aku menghilangkan rasa malu ku.
Tanpa mengetahui yang
sebenarnya, aku masih menganggap laki-laki bertubuh tinggi dan kurus itu adalah
senior. Sehingga aku meminta foto bersama dengannya pada minggu berikutnya,
bahkan sesama voluntir yang berada disana sempat menggoda ku. Setelah
berbincang lebih lanjut, ternyata laki-laki tersebut satu angkatan dengan ku
dan ternyata kami hanya beda 1 hari masuk sebagai voluntir. Aku sempat malu
mengetahui hal itu.
Selama berada di komunitas
itu, aku mendapatkan teman dari berbagai jurusan juga namun aku merasa lebih
dekat dengan mereka disini daripada di organisasi kerohanian. Ada banyak faktor
mengapa aku bisa lebih dekat. Antara lain karena jumlah pengajar yang sedikit
jadi kami harus berusaha agar dapat bekerja sama dengan baik, kami sering
berkumpul setelah mengajar untuk makan malam bersama untuk mengobrol tentang
banyak hal, kami sering bertukar pikiran mengenai hal-hal sosial serta hal-hal
aneh lainnya dan masih banyak lagi. Yang paling aku rasakan berada disana
adalah aku tidak pernah merasa malu untuk mengutarakan pendapat serta perasaaan
ku terhadap sistem yang selalu berubah dan tidak pasti. Bahkan aku sering miscommunication dengan manajer dari
komunitas tersebut, namun untung saja kami dapat menyelesaikannya dengan baik.
Salah satu masalah yang paling
aku ingat adalah ketika acara marathon.
Saat itu aku menjadi koordinator dari sebuah divisi pada acara marathon tersebut. Aku membawa anggota-anggota
ku untuk beristirahat di camp setelah
berjaga dari pagi dengan tugas yang tidak jelas. Karena melelahkan, beberapa
anggotaku ada yang berbaring di camp.
Camp yang hanya berupa tenda terbuka
diantara stand-stand pada saat itu
sedang sepi. Manajer itu datang dan menyuruh kami untuk kembali bertugas,
padahal kami belum lama berada di camp.
Aku sempat beradu argumen dengannya dan diakhiri dengan kemarahan yang cukup
besar padanya. Aku menyuruh semuanya untuk bubar dari camp dan bertemu pada tempat kami bertugas beberapa menit lagi
sementara aku pergi meninggalkan tenda dengan amarah. Manajer tersebut
mengejarku dan menjelaskan perihal tersebut, namun aku tidak menerima
penjelasannya dengan baik karena aku sudah cukup lelah dengan tugas sejak pagi.
Meskipun aku sangat lelah, namun aku pulang bertugas paling akhir menuju
kampus. Aku sampai kos jam 3 lalu tidur jam setengah 4 setelah aku mandi. Aku tertidur
selama 12 jam lebih dan terbangun pada jam 5 pagi keesokan harinya.
Selain hal-hal menyebalkan dan
mengasyikan, aku juga mendapatkan pengalaman jatuh cinta. Tanpa aku sadari, aku
telah jatuh cinta pada laki-laki bertubuh tinggi dan kurus itu. Ia jurusan seni
dan sangat menyukai anak-anak serta kebebasan. Pada awalnya aku hanya mengaguminya
saja, kami juga memiliki hubungan baik saat itu, bahkan aku dekat dengan
teman-temannya. Aku tertarik dengan dunia desain karena sangat menarik dan
berwarna. Aku berusaha mengerti semua kondisi teman-teman voluntirku, oleh
karena itu aku berusaha mengetahui lebih lanjut mengenai materi belajar serta
perjuangan di dunia desain.
Semakin lama aku dekat
dengannya, aku merasa semakin nyaman dengannya. Dan tanpa ku sadari, aku telah
jatuh cinta padanya. Puncak kebodohan akan perasaanku terlontarkan pada saat
melaksanakan bimbingan belajar pada bulan Juni. Hari itu adalah hari selasa,
dan hari itu adalah hari yang buruk. Aku dan kelompok ku gagal dalam presentasi
salah satu mata kuliah, lalu aku dibebani oleh perihal seleksi menjadi asisten
dosen, bimbingan belajar dipindah dari satu kampus ke kampus lainnya dan
menyebabkan banyak anak yang tidak tahu sehingga harus dipindahkan. Saat itu,
posisi ku adalah pengurus dan itu adalah tahun pertama ku berada di komunitas
itu. Aku dan dia sama-sama berada pada divisi pendidikan. Ketua divisi, aku dan
dia lari dari kampus satu ke kampus tempat bimbingan belajar sebelumnya untuk
mengarahkan para anak serta orang tuanya menuju kampus tempat bimbingan belajar
baru. Setelah beberapa menit ketua divisi ku kembali terlebih dahulu karena
kurangnya voluntir yang berjaga di tempat baru. Aku dan dia berjaga selama 15
menit setelah ketua divisi kami pergi. Setelah 15 menit, kami pun kembali ke
tempat bimbingan baru untuk membantu voluntir lainnya mengajar. Dalam
perjalanan, kepala ku terasa pusing dan pikiran ku kacau. Ia bisa menebak apa
yang akan terjadi berikutnya.
Ada yang ingin ku katakan
Sejak bertemu dengannya, aku
sering mengikutinya dari belakang dengan cara memegang tas punggungnya. Bahkan
aku pernah memeluk tasnya padahal sedang ia pakai.
Jangan katakan
Tolong jangan katakan itu
Aku sedang berada di depan
gedung namun berada di dalam wilayah kampus. Suasana begitu sepi saat itu. Meskipun
begitu, ia bersikeras menutup telinganya namun pada akhirnya ia mendengar
perkataan ku setelah aku menarik tasnya dengan kasar.
Aku mencintaimu
Seketika suasa menjadi hening.
Ia memunggungi ku dan membatu. Aku tertunduk dan berlari meninggalkannya.
Maafkan aku
Ia pun terkejut dan langsung mengejarku
dari belakang.
Tunggu
Aku tetap saja berlari,
berpura-pura tidak mendengarnya. Hingga ia menarik tas ku. Aku menutup muka ku
dan berdiri diam pada posisi ku. Aku tidak ingin melihatnya. Aku menunduk,
mengalihkan pandanganku.
Aku tidak mengingat terlalu
banyak apa yang terjadi beberapa menit kemudian. Aku hanya ingat pada saat kami
melangkah menuju kelas bimbingan, kami bertemu dengan voluntir lain dan
memberitahu kami letak kelas mengajar. Lalu di perjalanan menuju kelas, kami
sama-sama melangkah cepat menaiki escalator
dan ia pun memulai pembicaraan mengenai yang tadi.
Mengenai yang tadi itu...sepertinya aku belum siap
Sebenarnya aku hanya ingin meluapkan perasaan ku saja, aku tidak apa-apa.
Aku minta maaf
Ia mengucapkan terima kasih
kepada ku. Sejujurnya, aku merasa bodoh dan malu setelah membuat sebuah
skenario tak terduga. Bahkan saat mengajarpun aku menghindari dirinya pada saat
itu. Namun entah mengapa, aku merasa ia menjadi dekat dengan ku. Bahkan aku
merasa hubungan kami terasa seperti lebih dari teman, meskipun kami tidak
memiliki status sama lain. Kami sering dikira pacaran oleh voluntir lain karena
sering bersama dan cocok satu sama lain.
Hal-hal lebih detail tidak
akan aku jelaskan lebih lanjut disini. Aku akhiri saja bahwa kami saat ini
tidak lagi menghubungi satu sama lain dan bahkan ia menghindari ku.
Selain perihal diatas, aku
juga memiliki sebuah kejadian tidak terduga. Awalnya aku dekat dengan seorang
perempuan sejak masa orientasi. Kami dekat dan bisa dibilang kami memiliki
banyak hal yang mirip. Singkat cerita, ia ternyata adalah seorang penipu yang
telah menipu banyak orang dan sedang menjadi buronan polisi sekarang. Aku
bahkan tidak ingin bertemu dengannya lagi.
Pada saat aku menyelesaikan
ini, aku sudah berusia 22 tahun. Beberapa hari lagi aku akan segera wisuda. Aku
sudah bekerja di sebuah perusahaan yang tidak terlalu aku suka pada bidang yang
tidak aku minati. Namun aku harus tetap berjuang, bukan untuk ku tapi keluarga
ku.
Bertahanlah
Hingga suatu saat nanti kau bisa tersenyum bahagia dengan seseorang
disampingmu
Yang akan menjagamu dan menemanimu
Yang akan memberimu perasaannya serta kasih sayangnya untukmu
Yang akan memberimu perhatian selain orang tua
Suatu hari nanti
Ia akan datang dan menjemputmu
Membawa harapanmu menuju kehidupan yang lebih baik
Jakarta, 29 Juli 2017
Pukul 02:02